VIRAL! Perilaku Oknum karyawan KOPDIT Swasti sari cabang Halilulik, Marah-Marah, Tidak Profesional ternyata begini kronologisnya

  • Bagikan

Begini kronologisnya Oknum karyawan KOPDIT Swasti sari marah-marah dan tidak profesional(foto:Aktaduma.com)

 

EL-VOICE.COM,ATAMBUA – Salah satu nasabah KOPDIT Swasti Sari atas nama Markus Moruk melakukan pinjaman pada koperasi tersebut pada tahun 2019.

Menurut Rosalinda Bui istri Markus Moruk yang ingin berhenti dari KOPDIT Swasti Sari karena Markus Moruk sudah tidak bisa lagi mencari nafkah bahkan sedang sakit berhubung sudah lanjut usia.

Tujuan melakukan peminjaman untuk pemasangan listrik dirumah tempat tinggalnya hingga saat ini.

Dalam pinjaman tersebut berjumlah 4,5 juta namun yang diterima menurut Rosalinda Bui hanya 3 juta rupiah. Satu juta di tidak diambil dengan alasan tabungan Pokok. Sedangkan 500 ribu sisanya tidak diketahui untuk apa.

Baca Juga:  Puluhan Warga Datangi Kodim, Ini Alasannya!

Menurut Rosalinda peminjaman tersebut berawal atas komunikasi dengan Desa setempat karena pembayaran di kantor Desa.

Dalam perjalanan masa pengembalian di tahun 2020 dunia dan terkhusus Indonesia dihentikan sementara penyetoran pinjaman karena covid 19.

“Pada tahun 2021 kami langsung bayar 3 juta,lalu bulan berikutnya hingga 2022 sampai 2023 kadang kami bayar 500,250,400,300 dan seratus ribu rupiah setiap bulannya.” Ungkap Rosalinda kepada awak media di samping kantor KOPDIT Swasti Sari Cabang Halilulik.(Senin 09/10/2023).

Baca Juga:  Dalam Upaya Menjalankan Instruksi Presiden,BPJS Kesehatan Atambua menggelar sosialisasi 5 Komponen Iuran PPU PN Daerah Bagi Tenaga Medis

Lanjutnya, setelah anak semua merantau tidak ada lagi yang membantu membayar sehingga dirinya dan suami meminta agar berhenti dari KOPDIT Swasti Sari berhubung sudah pada lansia.

“Saat saya kekantor tadi mereka tidak mau kami berhenti, katanya tunggu mati dulu baru antar 10 juta, lalu anak saya menghubungi wartawan untuk membantu liputan,” ujar Rosalinda.

Jelasnya Rosalinda Bui, beberapa kali menyetor tapi ada sebagian slip penyetoran tidak diberikan seperti waktu setor di kantor desa.

“Kami sudah tidak bisa bayar makanya kami minta bayar, karena saya sudah susah sekali makannya saya datang minta berhenti, setelah KK datang baru mereka hitung uang sisa tabungan dengan kurang lebih jumlah 1,7 juta.”

Baca Juga:  Jelang Pilkades Serentak di TTS, Pospera: Harus Jujur, Adil, dan Bermartabat

Menurutnya Rosalinda, Minggu lalu anggota KOPDIT Swasti Sari Cabang Halilulik datangi rumahnya untuk menyetor lagi 200 ribu.

“Setelah kasih 200 ribu itu mereka bilang ini sudah habis jadi kami tidak datang minta lagi, yang jadi pertanyaan kami dalam buku tabungan penyetoran di tahun 2021 sudah lunas kenapa kami bayar terus sampai 2023 di tahun 2022 juga kami bayar,” jelas Rosalinda Bui.(Haman)

Sumber :Aktaduma.com

 

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *