Peran Pendidik dalam Membangun Peradaban Bangsa

  • Bagikan
Dosen PGSD STKIP Sinar Pancasila Betun Alumni GMNI Cab. Malang, Komisariat Kanjuruhan

EL-VOICE.COM- Pendidikan merupakan salah satu dari kebutuhan hidup manusia yang harus juga dipenuhi. Dengan pendidikan manusia tidak hanya mengetahui dan memahami esensi dari keber-ada-an dan tujuan hidupnya (esensi diri) saja tetapi juga tentang segala hal yang terjadi di hadapannya termasuk nilai dan norma yang mengatur hidupnya. Karena itulah pendidikan tidak hanya dipahami sebagai usaha sadar untuk menumbuh-kembangkan potensi dirinya, baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Tujuan pendidikan tidak hanya proses transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) tetapi juga merupakan proses transfer nilai (transfer of value).

Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan, selain sebagai transmisi pengetahuan juga sebagai pembentuk kepribadian atau karakter peserta didik. Agar tercipta peserta didik yang bernilai moral baik, maka perlu adanya optimalisasi pendidikan sehingga peserta didik bisa menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak sehat, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab.

Baca Juga:  Bupati Belu: Pers Harus Punya Etika dan Moral yang Baik.

Pendidikan berkembang seiring perkembangan era globalisasi di mana kemajuan teknologi dan informasi membawa banyak perubahan. Hal tersebut menjadikan pendidikan sebagai barometernya. Secara logika, sangatlah wajar karena pendidikan merupakan alat sekaligus wadah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan sarana untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh human resources. Namun, ada sisi lain yang terabaikan yakni proses pembentukan karakter manusia untuk menjadi lebih baik (humanisasi).

Perkembangan zaman yang cepat membuat pendidikan mengalami krisis kepercayaan dari masyarakat, pendidikan mengalami krisis pembentukan karakter (kepribadian) secara baik, dan lebih ironis lagi, masyarakat tidak percaya dengan peran pendidik.

Melesatnya arus globalisasi berbasis IT yang dengan mudah menembus ruang batas, waktu dan jarak, maraklah fenomena perilaku amoral yang melibatkan peserta didik sebagai pelakunya, seperti tawuran, pengrusakan fasilitas umum, bullying, penyalahgunaan obat terlarang, minuman keras, seks bebas, saling merendahkan atau menghina di media sosial, yang ujung-ujungnya “ mengkambing hitamkan” pendidik sebagai sosok yang bertanggung jawab terhadap fenomena tersebut. Bahkan akhir-akhir ini terjadi peristiwa ketidakpercayaan orang tua terhadap pendidik.

Baca Juga:  Aniaya Janerius dan Rusak Mobil Aloysius, Fransiskus Xaverius Bau Dilaporkan Ke Polisi

Kasus guru dipolisikan karena melakukan tindakan punishment (dalam kategori batas kewajaran) akibat perilaku tidak baik peserta didik kadang ditanggapi berlebihan oleh orang tua bahkan sampai ke tingkat hukum. Hal ini merupakan bukti nyata bahwa orang tua selaku masyarakat juga sudah tidak percaya lagi terhadap guru. Inilah perhelatan penanaman karakter dalam dunia pendidikan. Di satu sisi pendidik memiliki tanggung jawab menanamkan karakter pada peserta didiknya melalui pembiasaan sehari-hari, di sisi lain orang tua tidak memahami tujuan pendidikan tersebut. Realita ini menunjukkan bahwa penanaman karakter pada peserta didik melalui pendidikan belum berhasil dan belum disadari secara integratif oleh semua pihak.

Pada hakikatnya pendidikan karakter merupakan penanaman nilai kejujuran (honesty), disiplin (dicipline), komitmen (commitment), dan beriman (religious) melalui pembiasaan. Jika karakter generasi penerus masih unhonesty, indicipline, uncommitment, dan unreligious, maka bagaimana generasi penerus akan mampu meneruskan peradaban bangsa apalagi mengubahnya? Di sinilah peran pendidik menjadi sangat urgent dalam menanamkan karakter kepada peserta didik sebagai generasi penerus yang diintegrasikan dalam kurikulum, kegiatan, maupun budaya sekolah yang diterapkan dalam pembiasaan sehari-hari sehingga bisa membangun karakter dalam pribadi peserta didik.

Baca Juga:  Umat Paroki Santo Yoseph Naikoten Rayakan Misa Pelindung Gereja.

Maju mundurnya peradaban suatu bangsa tergantung pada potensi sumber daya manusia (SDM) yang mengelolanya. Potensi SDM akan maksimal manakala ditopang oleh pendidikan yang baik. Tak salah jika kekuatan pendidikan merupakan penopang peradaban bangsa yang utama. Antara pendidikan dan peradaban merupakan dua hal yang berbanding lurus. Oleh karena itu bangsa yang beradab memberikan ruang khusus untuk pendidikan. Semakin banyak ruang untuk pendidikan maka semakin tinggi peradaban yang akan diukir. Sebaliknya, peradaban yang lemah dikarenakan pendidikan tidak mempunyai ruang yang memadai.

“Pendidikan tanpa nilai, seberapa bergunanya itu, tampaknya hanya akan menciptakan seorang iblis yang lebih pintar” C. S. Lewis

SELAMAT HARI LAHIR PANCA SILA, 01 JUNI 2022

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *